10 Februari 2011 | 18:30 wib
Kebumen Peringkat Tiga Penduduk Miskin di Jateng
Kebumen, CyberNews. Tingginya angka penduduk miskin
di Kabupaten Kebumen memaksa pemerintah kabupaten itu bekerja keras
untuk menurunkannya. Bagaimana tidak, merujuk data Badan Pusat Statistik
(BPS) tahun 2009, angka penduduk miskin di Kebumen masih 25,73% yakni
di bawah Provinsi Jateng sebesar 17,48%.
Dengan angka tersebut,
menempatkan Kebumen berada di peringkat ketiga dalam hal banyaknya
jumlah penduduk miskin tertinggi di Jawa Tengah setelah Kabupaten
Wonosobo 25,91 % dan Kabupaten Rembang 25,86%.
"Tentu ini
bukanlah prestasi yang membanggakan. Menjadi tugas pemerintah dan semua
pihak untuk membuat masyarakat lebih berdaya," ujar Wakil Bupati
Djuwarni AMd Pd saat membuka Konsultasi Publik Pembahasan Raperda
Percepatan Penanggulangan Kemiskinan di Hotel Candisari, Kebumen, Kamis
(10/2).
Salah satu teroboson yang dilakukan Pemkab Kebumen dalam
mengurangi jumlah penduduk miskin adalah dengan membuat regulasi yang
mengatur tentang percepatan penanggulangan kemiskinan. Regulasi tersebut
sebagai payung hukum dan perwujudan komitmen Pemkab Kebumen dalam upaya
percepatan penanggulangan kemiskinan.
"Dengan berbagai upaya ini, tahun 2015 angka kemiskinan di Kebumen ditargetkan turun menjadi 15,45%," ujar Djuwarni.
Berbagai
elemen masyarakat mengikuti kegiatan yang digelar Oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bekerjasama dengan Plan dan
Forum Masyarakat Sipil (Formasi). Antara lain dari satuan kerja di
jajaran Pemkab Kebumen, anggota DPRD, akademisi, LSM, dan masyarakat.
Uji
publik tersebut juga menghadirkan dua orang narasumber yakni Youri
Tenatel dari Tim Nasional Penanggulangan Kemiskinan (TNPK) dan Sekda
FITRA Yuna Farhan. Dengan dipandu oleh Mustika Aji dari Formasi, kedua
narasumber membedah draft Raperda tersebut sebelum diajukan ke DPRD
Kebumen untuk dibahas.
Mereka juga mengktritisi berbagai kelemahan
yang ada di dalam draf Raperda setebal sembilan lembar itu. Kepala
Bappeda Kebumen H Muji Raharjo SH mengatakan, kemiskinan adalah masalah
yang multi demensional. Sehingga penanganannya harus dilaksanakan secara
menyeluruh tidak bisa hanya dilakukan secara parsial.
"Melalui
penyusunan Raperda dia mengharapkan penanggulangan kemiskinan daoat
dilaksanakan secara partisipatif, transparansi, efektif, efisien dan
keberlanjutan," ujarnya.
Penanggulangan Kemiskinan
Sementara itu, dalam draft Raperda itu disebutkan bahwa pembiayaan
untuk kegiatan program percepatan penanggulangan kemiskinan di tingkat
kabupaten sekurang-kurangnyua 5% dari APBD setelah dikurangi belanja
pegawai. Di tingkat desa, pembiayaan untuk kegiatan program percepatan
penanggulangan kemiskinan juga sekurang-kurangnya 5% dari total belanja
langsung APB Desa.
"Namun yang menjadi kelemahan draf Raperda ini
adalah tidak adanya sanksi, misalnya jika ternyata dalam dalam
implementasinya alokasi dana tidak mencapai 5% tidak ada sanksi
apa-apa," ujar Youri Tenatel.
Di sisi lain, terlepas dari angka
kemiskinan yang masih tinggi, Youri Tenatel memuji Pemkab Kebumen karena
pengurangan angka kemiskinan termasuk tinggi. Tahun 2008 jumlah
penduduk miskin mencapai 27,87% dan di tahun 2009 bisa turun menjadi
25,73%.
"Dengan dilibatkannya masyarakat dalam upaya percepatan
penanggulangan kemiskinan sangat baik dalam upaya keberlangsungan
program tersebut," tandasnya.
Suara Banyumas
05 April 2010
Cabup Saling Adu Argumentasi
KEBUMEN - Panasnya suhu politik
menjelang Pilkada Kebumen terbawa hingga pelaksanaan debat pasangan
calon bupati (cabup) dan wakil bupati (cawabup) di Hotel Candisari,
Karanganyar, Kebumen, Sabtu (3/4). Acara yang digelar KPU Kebumen yang
berlangsung hingga sore hari itu diwanai saling sanggah pendapat.
Debat dengan moderator Pandu Purwa dan Dyah Ayu itu memang memberi
kesempatan kepada masing-masing calon untuk menyampaikan argumentasi dan
menyanggah pendapat calon yang lain. Para pendukung masing-masing
pasangan calon itu juga ada kesempatan untuk beradu yel-yel dukungan.
Pendukung pasangan nomor urut satu Rustriyanto SH-dokter Rini Suprapto
MKes meneriakan "Rustri menang". Giliran pendukung nomor urut dua, Kiai
HM Nashiruddin Al Mansyur-Probo Indartono SE MSi berteriak "Nashpro
yes". Disusul kemudian pendukung pasangan cabup-cawabup nomor urut tiga
Buyar Winarso SE-Djuwarni AmdPd "Coblos Batike". Dan, pendukug Drs
Poniman Kasturo MM-Nur Afifatul Khoeriyah tidak kalah serunya dengan
mengatakan, "Pilihan tepat nomor empat".
Pelaksanaan debat itu dikemas tidak bersamaan. Terlebih dahulu
menampilkan debat cabup. Empat cabup yang tampil, Rustriyanto,
Nashiruddin, Buyar, dan Poniman menjawab pertanyaan dari tiga panelis
yakni Slamet Sujono SH MH (Dosen Fakultas Hukum Untag Semarang),
Gunarso Wiwoho SE MM (Dosen STIE Putra Bangsa Kebumen), dan Mustika Aji
(Aktivis LSM Kebumen).
Terkait penyelenggaraan debat cabup-cawabup, panelis tidak bisa
menyanggah atau menyatakan kurang puas terhadap jawaban masing-masing
calon. Panelis hanya bertugas memberi pertanyaan. "Jadi jawaban calon
seperti apa terserah penilaian masyarakat," kata Gunarso. (K5-46) (
/)
Suara Banyumas
25 Februari 2008
Rustri Layak Jadi Cawagub
KEBUMEN - Forum Masyarakat Sipil
(Formasi), gabungan aktivis LSM di Kebumen, memandang Dra Hj
Rustriningsih MSi layak menjadi cawagub untuk pilgub Juni 2008.
”Kami aktivis Formasi mengucapkan selamat dan berharap Bu Rustri yang
mendampingi Pak Bibit Waluyo sukses dalam pilgub nanti,” tandas Sutarjo,
Kepala Desa Seling Karangsambung yang juga anggota Jaringan Formasi,
kemarin.
Dewan Presidium Formasi Mustika Aji menjelaskan, menyikapi rekomendasi
DPP PDI-P yang telah menjatuhkan pilihan cagub-cawagub ke duet Bibit
Waluyo dan Rustriningsih, Sabtu lalu pihaknya menggelar diskusi.
Intinya, menyikapi peta politik dan mengkaji sosok serta kiprah Rusti
yang juga Bupati Kebumen.
Menurut Aji, berdasarkan catatan objektif Formasi, selama menjabat dua
periode Rustriningsih terbukti mampu meletakkan dasar tata pemerintahan
yang baik. Kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD) perlahan mulai
membaik, transparan, dan akuntabel.(B3-66)
| Selasa, 02 Januari 2007 |
KEDU & DIY |
 |
Refleksi Akhir Tahun
Kecil, Porsi Masyarakat di Perencanaan
KEBUMEN - Selama ini eksistensi kekuatan masyarakat sipil (civil
society) di Kebumen telah diakui. Namun gerakan mereka sering tercerai
berai dan sulit melahirkan konsensus sebagai kekuatan penyeimbang dari
dominasi pemerintah.
Hal itu mengemuka dari Refleksi Akhir Tahun program Institute for Research
and Empowerment (IRE) Kebumen di Jalan Pahlawan, Sabtu (30/12) lalu. Dialog
dipandu Anang Sabtoni (IRE) itu menghadirkan Mustika Aji (Formasi), Komper
Wardopo
(Suara Merdeka), dan Akhmad Murtajib (Indipt).
Mustika Aji banyak menyoroti lemahnya peran masyarakat dalam proses
perencanaan pembangunan. Bahkan selama ini usulan dan ide yang datang dari
masyarakat masih amat terbatas. Banyak alasan yang ujungnya membatasi peran
masyarakat dalam proses perencanaan anggaran.
''Dalam Musrenbangcam hingga Musrenbang kabupaten, dominasi birokrasi
amat kuat. Dari 200 peserta Musrenbang kabupaten, 100 orang lebih adalah
birokrat,'' keluh Mustika Aji.
Warisan Sejarah
Komper Wardopo menyatakan, peran pers tetap diperlukan dalam
mengontrol tata kelola pemerintahan di daerah. Sinergi LSM dan gerakan
sipil dengan media tak boleh terputus dalam mengawasi birokasi pemerintah,
agar mereka tidak makin jauh dari kepentingan rakyat.
Pada bagian lain, Wardopo juga menilik aspek sejarah daerah Kebumen.
Dari sejarah pendiri Kebumen, mulai Dinasti Arungbinang, Tumenggung Kolopaking
dan Kiai Bumidirdjo, mereka selalu mengacu pada elite dinasti Mataram.
Bahkan di antara mereka juga ada yang mudah dipecahbelah oleh Belanda.
Warisan kultur sejarah itu mungkin tersisa hingga saat ini.
Ada salah satu dinasti yang hanya sekali memerintah, yaitu Purbonegoro
sebagai bupati Ambal. Sepenggal sejarah kepemimpinan Purbonegoro yang adil,
merakyat, dan berasal dari kaum bawah, sebenarnya layak menjadi teladan.
Sementara Akhmad Murtajib mengajak menulis sebagai alternatif membangun
posisi tawar. Kegiatan menulis dalam bentuk buku, buletin maupun di internet
bisa sebagai media alternatif dalam melawan dominasi pemerintah.
Apalagi media umum terbatas dalam memuat tulisan, aktivitas LSM, dan
gerakan sipil. Tajib mengajak para aktivis membudayakan kegiatan menulis
sebagai upaya melahirkan gagasan dan inovasi masyarakat sipil.
Dia juga mengkritik kebiasaan birokrat Pemkab Kebumen yang masih memandang
rendah potensi lokal. Misalnya, dalam membuat rumusan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) daerah dan Poldas banyak dipercayakan kepada perguruan
tinggi di Yogyakarta dan Purwokerto. (B3-24)
| Sabtu, 02 Desember 2006 |
KEDU & DIY |
 |
Anggaran Pendidikan Baru 10,15 Persen
KEBUMEN - Menyikapi Plafon Prioritas Anggaran Sementara (PPAS)
2007 yang dibahas DPRD Kebumen saat ini, Lembaga Swadaya Umat (LSU) Bina
Insani mengaku prihatin. Sebab, anggaran pendidikan ternyata baru tercapai
10,15 persen.
Menurut Sekretaris LSU Bina Insani, Mustika Aji SPd kemarin, setelah
mencermati PPAS, pihaknya menemukan anggaran bidang pendidikan nongaji
Rp 70.910.780.000. Dibandingkan pendapatan daerah yang angkanya berkisar
Rp 698 miliar, berarti baru sekitar 10,15 persen untuk sektor pendidikan.
Aji menyatakan, angka 38,93 persen anggaran bidang pendidikan yang
tercantum dalam kebijakan umum APBD dan PPAS 2007 bisa mengecoh publik.
Pasalnya, setelah ditelusuri, masih menggabungkan antara alokasi anggaran
untuk pelaksanaan kegiatan dengan gaji guru SMPN, SMAN dan SMKN.
''Berarti masih jauh dari amanat undang-undang sebesar 20 persen. Untuk
itu, kami meminta DPRD dan Pemkab dalam membahas PPAS menambah alokasi
anggaran pendidikan hingga 20 persen pada tahun 2010 nanti.''
Aji mengemukakan, anggaran bidang pendidikan itu tersebar pada program
dan kegiatan Dinas Pendidikan sekitar Rp 49 miliar, program dan kegiatan
SMPN, SMUN dan SMKN Rp 11,4 miliar, dan program kegiatan di sekretariat
daerah Rp 11,4 miliar. Keseluruhan anggaran tersebut terdistribusikan pada
13 program.
Sudah Proporsional
Aji mengakui, melihat distribusi anggaran pada masing-masing
program memang sudah baik dan proporsional. Hal itu setidaknya bisa dilihat
dari besarnya anggaran untuk program wajib belajar 9 tahun mencapai 36,52
persen dan program pendidikan menengah 24,96 persen.
''Menurut kami, tambahan alokasi anggaran untuk bidang pendidikan seyogianya
dialokasikan untuk penambahan program peningkatan mutu pendidikan dan tenaga
pendidikan serta pendidikan nonformal.''
Sementara itu, anggota Komisi A DPRD KH Dawami Misbah justru sedikit
kaget dengan besaran anggaran pendidikan hanya 10,15 persen. Sebab, setahu
dia, untuk tahun ini sudah 11 persen. ''Jika angka yang disodorkan Bina
Insani itu benar, kami malah prihatin,'' tandas wakil rakyat dari FKB itu.
Menurut pendapat KH Dawami, semestinya secara bertahap Pemkab harus
menaikkan anggaraan pendidikan. Dengan begitu, pada saatnya bisa memenuhi
amanat undang-undang, yakni sebesar 20 persen dari APBD.
Pihaknya juga mengingatkan eksekutif, sesuai komitmen selama ini, menempatkan
bidang pendidikan sebagai prioritas. Karena itu, tidak ada alasan untuk
mengurangi anggaran bidang pendidikan.
Terkait anggaran peningkatan mutu pendidikan dan sektor pendidikan
nonformal, Dawami menyatakan persetujuannya. Apalagi sektor nonformal,
seperti kegiatan pelatihan dan keterampilan, memang dibutuhkan, untuk menyiapkan
generasi muda masuk dunia kerja dan bisa mengurangi pengangguran. (B3-24)
| Selasa, 07 Maret 2006 |
KEDU & DIY |
 |
Kegiatan Lembaga Pendonor Tumpang-tindih
KEBUMEN - Kegiatan lembaga donor di Kabupaten Kebumen belakangan
ini semakin tumpah-tindih akibat kian banyak aktivitas yang hampir sejenis.
Untuk itu, kalangan LSM, Pemkab, dan wakil donor perlu bertemu.
Salim Wasdy dari Institut Studi untuk Penguatan Masyarakat (Indipt)
kemarin mengemukakan, telah meminta wakil dari lembaga donor serta Pemkab
dan LSM segera menggelar pertemuan segitiga. Pertemuan itu penting agar
tidak terjadi tumpang-tindih kegiatan.
Menurut keterangan dia, beberapa waktu lalu Indipt kedatangan wakil
dari Bank Dunia dan The Asia Foundation. Dari evaluasi terbatas itu memunculkan
perlunya pertemuan ketiga pihak agar kegiatan yang didanai atau didukung
donor saling melengkapi serta ada pembagian tugas ataupun peran.
Mustika Aji dari Forum Masyarakat Sipil (Formasi) mengungkapkan, dari
berbagai kegiatan lembaga donor membuat masyarakat dan LSM beserta
civil
society (CSO) kerepotan memantaunya.
Dia mengungkapkan, ada satu desa menerima sekaligus tiga sampai empat
kegiatan. Misalnya beberapa desa di Kecamatan Karanggayam. Selain mendapat
proyek fisik, masih ada pendampingan dan program sarana prasarana yang
menumpuk di satu desa saja.
''Padahal, masih banyak desa lain belum kebagian paket bantuan atau
program. Jika terus dibiarkan, asas manfaat yang diharapkan menjadi kurang
efektif,'' ujar aktivis LSM Bina Insani itu.
Sementara itu, Petruk M Basikun dari Dewan Tani menekankan, banyak
kegiatan lembaga donor namun selama ini pemain utamanya tetap para pendatang.
Dengan kata lain, masyarakat lokal kurang dilibatkan dalam menangani program-program
donor.
''Akibatnya, kita terus terpinggirkan. Padahal, semestinya muara kegiatan
lembaga donor yang makin banyak itu untuk kesejahterana rakyat Kebumen.''
Teguh Purnomo dari Serikat Pekerja Hukum Progresif mengakui, makin
banyak LSM melakukan advokasi dan pendampingan. Idealnya, kalangan LSM
yang melakukan adokasi itu mandiri dahulu. Hal itu agar keberadaan LSM
tidak menjadi bagian dari masalah namun harus bisa memecahkan persoalan.
Kepala Bagian Tata Usaha Bappeda Ir H Djoenedi Fatchurahman MSi mengungkapkan,
prinsipnya Kebumen terbuka untuk kegiatan dari negara donor. Namun, perlu
ada sinkroninasi untuk meningkatkan manfaat kegiatan tersebut.
Djoenedi mengatakan, dewasa ini semakin banyak program yang diprakarsai
lembaga donor. Namun, kadang memang terjadi kegiatan agak serupa atau tumpang-tindih.
Belum lagi beberapa tujuan kegiatan itu kadang tidak selaras dengan kondisi
di daerah.
Dia mencontohkan, semestinya mekanisme perencanaan hanya satu kali,
yaitu musyawarah perencanana pembangunan (musrenbang). Namun, berbagai
kegiatan ada yang harus melalui musrenbang sehingga tidak efektif. (B3-55j)
| Jumat, 02 Juli 2004 |
KEDU & DIY |
 |
2015, Akses Air Minum Harus Tercukupi
KEBUMEN- Indonesia termasuk negara yang menyetujui kesepakatan
global pada 2015, yaitu akses air minum terhadap seluruh warga harus tercukupi.
Kini Bappenas tengah menyusun kebijakan nasional air minum berbasis masyarakat.
Hal itu terungkap pada paparan penyusunan kebijakan air minum dan penyehatan
lingkungan (AMPL) di Bappeda Kebumen, Kamis kemarin. Paparan dibuka Kepala
Bappeda H Budi Utomo SH, menghadirkan fasilitator dari Water Supply and
Sanitation Policy and Action Planning Project (Waspola).
Menurut penuturan Sobari dari Waspola, proyek itu dilaksanakan Pemerintah
RI melalui kelompok kerja lintas departemen dan diketuai Bappenas. Pihak
yang terkait adalah Departemen Kimpraswil, Departemen Kesehatan, Depdagri,
dan Departemen Keuangan.
Pihaknya selama enam bulan menjadi pendamping intensif untuk menghasilkan
rencana kerja daerah. Adapun bagi daerah, diharapkan mendapatkan gambaran
menyeluruh tentang kondisi pelayanan AMPL bagi arah pembangunan yang efektif.
Selain itu, untuk menemukan aspek dan faktor yang memengaruhi keberlanjutan
pembangunan partisipatif serta menumbuhkan kesadaran dan partisipasi semua
pihak dalam upaya keberlanjutan pembangunan AMPL.
Tim Kerja Daerah
Sobari mengemukakan, daerah diminta menyediakan tim kerja daerah
yang aktif, dana operasional kerja, dan dana pemdamping kegiatan fasilitasi
kebijakan, serta menyelenggarakan dialog kebijakan daerah yang melibatkan
stakeholder yang luas termasuk DPTD, perguruan tinggi, LSM, dan
unsur yang terkait.
Sementara itu, Camat Bonorowo Helmi Sabry SSos mengatakan, fasilitator
program tersebut agar berhati-hati dan mempertimbangkan dampak keberhasilan
di lapangan. Sebab, program sejenis dahulu pernah ada namun lebih sering
gagal.
Sementara itu aktivis LSM Bina Insani Mustika Aji SPd mengungkapkan,
persoalan air merupakan hal yang kompleks, apalagi Kebumen memiliki spesifikasi
daerah rawan banjir. Namun, ada daerah pegunungan selalu dilanda kekeringan
tiap musim kemarau.
Sebelumnya, Kepala Bappeda H Budi Utomo menyebutkan, air merupakan
kebutuhan vital manuisa sehingga hendaknya menjadi kepedulian semua pihak.
Dia mengharapkan masukan dan peran aktif semua komponen baik pemerintah
maupun swasta untuk menyusun kebijakan AMPL di daerah. (B3-20j)
Latar Belakang Masalah AMPL
Kurang efektif dan efisien investasi yang telah dilakukan pada pembangunan
prasarana dan sarana AMPL.
Air hanya dipandang sebagai benda sosial.
Keterbatasan kemampuan pemerintah. (j)
| Selasa, 11 Mei 2004 |
KEDU & DIY |
 |
DPRD Bahas Dua Perda Irigasi
KEBUMEN - Subdinas Pengairan DPU Kebumen saat ini mengajukan
dua peraturan daerah (perda) tentang irigasi. Pertama, Perda tentang Izin
Pemakaian Tanah Pengairan. Kedua, Perda tentang Retribusi Izin Pemakaian
Tanah Pertanian.
Ketua DPRD H Budi Utomo AMM, Senin (10/5), menyatakan mengundang Kepala
DPU, Kepala Subdinas Pengairan, Bagian Hukum, beberapa camat, LSM Bina
Insani, LKPM Swadiri, dan warga masyarakat pemakai tanah pengairan untuk
dengar pendapat.(B3-76)
|
Senin, 7 April 2003
|
Jawa Tengah - Kedu & DIY
|
 |
Kebijakan Bupati Dinilai Kurang Terfokus
- Juga Muncul Isu Akan Menolak LPJ
KEBUMEN- Aktivis Lembaga Swadaya Umat Bina Insani Mustika Aji
menilai, kebijakan Bupati Kebumen Rustriningsih selama ini kurang terfokus.
Dia khawatir, jika opini keberhasilan terus dikembangkan di media, justru
tidak objektif dan bisa membodohi masyarakat.
"Sebab, kenyataan di lapangan masih tidak jelas," ungkap Aji
pada dialog penyerapan aspirasi di DPC PKB Kebumen Jalan Kutoarjo, kemarin.
Acara itu dihadiri Sekretaris DPC Yazid Mahfudh, segenap anggota FKB, LSM,
ormas, dan sejumlah mahasiswa.
Aji juga menyoroti acara tanya jawab di radio dengan Bupati dan mengkritik
soal keberhasilasan proyek fisik rata-rata 100%. Hal itu muncul pada LPJ
Bupati 2002. Sementara itu, untuk pemberdayaaan ekonomi dan kaum perempuan,
dia menganggapnya kurang menyentuh sasaran.
Ketua PMII Cabang Kebumen Khotimah menyoroti APBD 2003. Dia berpandangan,
APBD tersebut cenderung membesarkan anggaran fisik. Untuk anggaran pendidikan,
masih sangat minim. Padahal, anggaran pendidikan merupakan investasi jangka
panjang yang sangat diperlukan.
Yunus Anies - ustad dari Gombong, mengkritik manajemen pemerintahan
di Pemkab Kebumen. Dia mengungkapkan, parameter keberhasilan pembangunan
tidak jelas serta proses politik mengarah ke demokrasi cacah jiwa.
Masukan Fraksi
Wakil Ketua DPC PKB Drs Salim Wazdi MPd menyatakan sebenarnya dialog
dengan kader diadakan rutin untuk membahas topik tertentu. Khusus menanggapi
LPJ Bupati 2002, pihaknya perlu menyerap aspirasi dari komponen masyarakat
sebagai masukan bagi fraksi di DPRD.
Bupati Rustriningsih yang dimintai konfirmasi menegaskan, bila semua
pihak mau jujur sebenarnya proses politik di Pemkab saat ini sedang mencari
bentuk. Jika ada kekurangan, itu wajar. Namun dia juga meminta agar penilaian
dilakukan secara objektif.
Artinya, lanjut Bupati, jangan hanya karena ada keinginan seperti bargaining
menjelang keputusan LPJ, muncul penilaian semua dianggap gagal. Lalu faktor
prestasi dan keberhasilan diabaikan.
Mengenai dialog radio lewat "Selamat Pagi Bupati" yang mengudara
tiap pagi di In FM selama 30 menit, jelas Bupati, merupakan salah
satu bentuk penyerapan aspirasi. Dengan demikian, dia mengharapkan semua
pihak bisa berpartisipasi dalam proses pemerintahan dan pengambilan kebijakan.
"Kami sadar, tidak semua yang dilakukan pemerintah benar. Justru
itulah kami berdialog secara terbuka dengan harapan setiap masukan masyarakat
secepatnya ditindaklanjuti," paparnya.
Tentang keberhasilan pembangunan, Bupati mengakui ada pula proyek fisik
yang gagal, seperti pembangunan jembatan Mangir. Namun untuk yang lain,
karena menyangkut anggaran, memang harus dilaporkan selesai 100%. Menyinggung
isu dua fraksi akan menolak LPJ, Bupati menyatakan tidak masalah. (B3-80j)