Senin, 11 Februari 2013

JADWAL KEGIATAM PEMBENTUNKAN BPD 2013-2019



NO
KEGIATAN
PELAKSANAAN


1
Persiapan Administrasi
28 s/d
31 Januari 2013

2
Rapat Persiapan Tk. Kabupaten (Rapat Tim)
31 Januari 2013

3
Sosialisasi  Tingkat Kabupaten
4 Februari 2013

4
Sosialisasi  Tingkat Kecamatan
5 s/d 
13 Februari 2013

5
Pembentukan Panitia Pelaksana Tk. Desa
14 s/d 
20 Februari 2013

6
Pembentukan Panitia Pelaksana Tingkat WP
15 s/d
21 Februari 2013

7
Pengumuman dan Penjaringan Bakal Calon Anggota BPD   dan anggota BPD Antar Waktu oleh Panpel Tk. WP
17 s/d
23 Februari 2013

8
Pengajuan Bakal Calon Anggota BPD dan Calon Anggota BPD oleh Panpel Tk.WP kepada Panpel Tk Desa
18 Feb s/d 4 Maret 2013

9
Verifikasi kelengkapan administrasi Bakal Calon Anggota BPD dan Bakal Calon Anggota BPD oleh Panpel Tk. Desa
5 Maret 2013

10
Bakal Calon melengkapi kekurangan persayaratan administrasi di Panpel Tk Desa
6 s/d 15 Maret 2013

11
Pengumuman Bakal Calon Anggota BPD dan Bakal Calon Anggota BPD Antar Waktu yang telah memenuhi persyaratan administrasi
18 s/d 22 Maret 2013

12
Pelaksanaan musyawarah penetapan Calon Anggota BPD dan Calon Anggota BPD Antar Waktu serta laporan hasil musyawarah oleh Panpel Tk. Desa Kepada kepala Desa
23 Maret s/d 6 April 2013

13
Penyampaian laporan oleh Kepala Desa kepada Bupati melalui Camat untuk mendapat peresmian
8 s/d 10 April 2013

14
Pemberhentian Anggota BPD Periode 2007 - 2013
11 s/d 15 April 2013

15
Peresmian dan Pelantikan Anggota BPD dengan Keputusan Bupati
11 s/d 24 april 2013

16
Monitoring dan Evaluasi
2 Bulan




Minggu, 10 Februari 2013

Mengembalikan " Kewibawaan " BPD

Dalam waktu dekat ini  sebagian besar desa di Kabupaten Kebumen akan menyelengarakan hajatan besar berupa pemilihan BPD dan pemilihan Kepala Desa. Sebuah moment yang akan sangat mempengaruhi perjalanan desa selama lima tahun kedepan, bagai mana tidak disaat itu mereka akan memilih anggaota BPD sebagai manifestasi keterwakilan dan permusyawartan serta memilih Kepala Desa sebagai pemimpin tertinggi pemerintah di tingkat desa. BPD dan Kepala Desa inilah yang membentuk Pemerintahan Desa sehingga sebenarnya kedudukan BPD sangat strategis.

Diantara  dua momen tersebut pemilihan Kepala Desa lebih mendapatkan perhatian masyarakat dibanding dengan pemilihan anggota BPD.  Banyak masyarakat desa tidak begitu perduli dengan pemilihan BPD setidaknya fonomena ini muncul setelah lahirnya UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan PP No 72 tahun 2005 tentang Desa dimana dalam kedua peraturan tersebut menurut beberapa pihak dirasa “mengebiri ” eksistensi BPD jika di bandingkan dengan UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.  Disisi lainya kapasitas serta pendanaan untuk BPD juga kurang mendapatkan perhatian yang memadai dari pemerintah daerah maka tak aneh jika beberapa desa BPD  menjelma menjadi lembaga ” tukang stempel “ kebijakan Kepala Desa dibanding sebagai lembaga permusyawaratan yang mempunyai fungsi kontrol dan regualtor.

Hal tersebut diatas tentunya  menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mengembalikan “kewibaawaan”  BPD.  Beberpa langkah bisa di tempuh mulai dari keseriusan dalam memberikan fasilitasi pemilihan BPD, penguatan kapasitas anggota BPD secara berkelanjutan serta penyedian dana operasional  bagi BPD agar dapat menjalankan tugas pokok dan fungsi yang di embannya. Dengan semakin kuatnya BPD diharapkan tata kelola pemerintahan desa yang baik kedepan akan bisa diwujudkan.

Rabu, 30 Januari 2013

Apa Kabar Reformasi Birokrasi



Dalam era reformasi saat ini reformasi birokasi  terasa masih tertinggal dibanding reformasi di bidang lainya.  Wakil Presiden Boediono menyatakan, sebagian aspek dari program reformasi birokrasi harus dapat langsung dirasakan oleh masyarakat.( www.kompas.com Jumat, 25 Januari 2013 ). Tapi apakah masyarakat secara umum sudah merasakan reformasi birokrasi ? apakah masyarakat sudah mendapatkan pelayanan yang terbaik dalam memenuhi hak-hak dasar mereka ? pertanyaan pertanyaan ini seharusnya muncul di benak para birokrat itu juga yang seharisnya selalu membuat mereka gelisah.  Karena birokrat adalah pelayan masyarakat bukan penguasa yang harus dilayani masyarakat.

    Seperti saudara saya selalu berharap untuk mendapatkan pelayanan terbaik dari para birokrat yang telah dibayar dari uang pajak yang telah kita bayarkan.  Apa kabar reformasi birokrasi sungguh aku menantimu.

Minggu, 28 Oktober 2012

Hama dan Penyakit Pada Budidaya Gurame dan Cara Penanggulangannya



Hama
Hama yang biasanya menganggu ikan gurami adalah ikan liar pemangsa seperti gabus (Ophiocephalus striatur BI), belut (Monopterus albus Zueiw), lele (Clarias batrachus L) dan lain-lain. Musuh lainnya adalah biawak (Varanus salvator Dour), kura-kura (Tryonix cartilagineus Bodd), katak (Rana spec), ular dan bermacam-macam jenis burung. Beberapa jenis ikan peliharaan seperti tawes, mujair dan sepat dapat menjadi pesaing dalam perolehan makanan. Oleh karena itu sebaiknya benih gurami tidak dicampur pemeliharaannya dengan jenis ikan yang lain. Untuk menghindari gurami dari ikan-ikan pemangsa, pada pipa pemasukan air dipasangi serumbung atau saringan ikan agar hama tidak masuk dalam kolam.

Penyakit
Gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter dan penyakit parasiter. Gangguan penyakit dapat lebih mudah menyerang ikan gurami pada saat musim kemarau dimana suhu menjadi lebih lebih dingin.
Penyakit non parasiter adalah penyakit yang timbul bukan karena serangan parasit, tapi biasanya bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan. Penyakit ini bisa berupa pencemaran air karena adanya gas beracun seperti asam belerang atau amoniak, kerusakan akibat penangkapan atau kelainan tubuh karena keturanan. Untuk mengetahui gangguan yang dialami oleh ikan yang dipelihara dapat diketahui dari pengamatan terhadap ikan. Bila ada gas beracun dalam air, ikan biasanya lebih suka berenang pada permukaan air untuk mencari udara segar.
Penyakit parasiter diakibatkan parasit. Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.
Ciri-ciri ikan yang terkena penyakit parasiter adalah sebagai berikut :
  • Penyakit pada kulit :
    Pada bagian tertentu kulit berwarna merah, terutama pada bagian dada, perut dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
  • Penyakit pada insang :
    Tutup insang mengembang, lembaran insang menjadi pucat, kadang-kadang tampak semburat merah dan kelabu.
  • Penyakit pada organ dalam :
    Perut ikan membengkak, sisik berdiri. Kadang-kadang sebaiknya perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap.
-  Penyakit Argulus Indicus atau kutu ikan, Penyakit ini disebabkan oleh parasit Argulus Indicusyang sumber penularannya adalah udang renik. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama fish lae atau kutu ikan. Kutu ini akan menempel dan menggigit mangsa sehingga berdarah. Penularannya adalah melalui air dan melalui kontak langsung dengan ikan lain, biasanya penyakit ini sering muncul pada kolam ikan yang kualitas airnya buruk. Cara penyembuhannya adalah dengan merendam ikanyang sakit ke dalam air garam 10 -15 g/liter selama 15 menit. Sebaiknya untuk menghindari ikan tertular kembali, anda menambahkan larutan garam 10 – 15 g/m2 untuk membunuh kutu air
-  Penyakit Dactylogyrus dan gryodactylus, dua nama ini adalah sejenis cacing parasit yang tumbuh berkembang dikarenakan kualitas air yang buruk, pakan ikan yang kurang atau kepadatan kolam yang terlalu penuh. JenisDactylogyrus menyerang insang ikan, gejalanya adalah menurunnya nafsu makan dan ikan gurami sering terlihat berbaring dengan dengan posisi insang yang terbuka, sedang jenis Gyrodactylus menyerang bagian sirip ikan. Cara perawatannya adalah dengan memperbaiki kualitas air yang berada di kolam dengan
menggantinya dengan air yang baru, dan menambahkan garam sebanyak kira2 40 gram/m2. Jika penyakit sudah sangat parah anda bisa merendam ikan dalam larutan garam selama 1 malam.
-  Mata Belo, Gejala awal serangan penyakit ini adalah ikan menjadi kurang aktif, malas, nafsu makan berkurang dan ikan sering ke atas permukaan air. Disusul dengan bola mata yang membengkak dan akhirnya ikan ini menjadi buta dan mati. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis cacing. Cara pengobatannya adalah dengan menghentikan pasokan air selama 24 jam, lalu masukkan garam sebanyak 1kg/m2 , besok harinya air dikuras dan diganti dengan air yang baru.
-  Jamur, pada tubuh ikan gurami yang terinfeksi jamur akan muncul benang – benang berwarna krem seperti kapas, biasanya pada kulit tubuh yang terluka. Jenis jamur yang menyerang ikan gurami adalah Saprolegnia dan Achyla. Jamur ini akan menyebabkan ikan menjadi lemah karena kurang makan, sehingga bisa memicu penyakit lain muncul. Cara penyembuhannya adalah dengan memberikan garam ke dalam kolam dengan jumlah 400g/m2 selama 24 jam untuk kemudian diganti besok harinya, selain garam bisa juga dipakai malachyte oxalatesebanyak 1 mg/l air selama 12 jam. Bisa juga menggunakan larutan formalin 200 ppm selama 2 jam.
-  Bakteri,  jenis bakteri yang menyerang ikan gurami adalah bakteriAeromonas sp, dan Pseudomonas sp. Gejala yang muncul yaitu terdapat luka berdarah tubuh, perut membesar, lendir mencair , sisik mengelupas dan muncul borok ditubuhnya. Dalam jangka waktu dekat ikan akan melemah, mengambang di permukaan air dan akhirnya mati. Pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan merendam ikan dalam larutan oxytetracycline 2 – 5 mg/l selama 24 jam, dan tindakan ini dilakukan berulang 3 kali. Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan merendam ikan yang terinfeksi bateri dengan larutan matachite green oxalat 0,5mg/l selama satu jam , selang 1 jam kemudian deberi umpan makanan yang lebih dahulu diberi kandungan oxcytetracycline 60mg/kg pakan, dan diulang selama 7 hari berturut – turut.
-  Bercak Putih ( White Spot ), jenis penyaki ini desebabkan oleh parasit yang bernama Ichthyophtbyrius. Ciri – ciri ikan yang terkena penyakit white spot yakni munculnya bercak – bercak putih pada bagian kulit. Biasanya ikan yang terkena serangan white spot akan menggosokkan badannya pada lingkungan di sekitarnya, serta mulut ikan gurami tampak kembang kempis seperti kekurangan oksigen. Cara perawatan dari penyakit ini adalah dengan merendam ikan guramidengan ke dalam air yang diberi larutan formalin sebanyak 25 mg/l. dan di tambahkan malachine green oxalat sebanyak 0,2 mg/l selama 24 jam.
Salah satu parasit yang sering menyerang ikan gurami adalah Argulus indicus yang tergolong Crustacea tingkat rendah yang hidup sebagai ektoparasit, berbentuk oval atau membundar dan berwarna kuning bening. Parasit ini menempel pada sisik atau sirip dan dapat menimbulkan lubang kecil yang akhirnya akan menimbulkan infeksi. Selanjutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau cacar. Parasit lainnya adalah bakteri Aeromonas hdyrophyla, Pseudomonas, dan cacing Thematoda yang berasal dari siput-siput kecil.
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan mengangkat dan memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati. Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset. Sementara pengobatan bagi ikan-ikan yang penyakitnya lebih berat dapat menggunakan bahan kimia seperti Kalium Permanagat (PK), neguvon dan garam dapur.
Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, petani di daerah Banyumas menggunakan laun lambesar (Chromolaena odorata (L), RM King & H. Robinson ) sebagai antibiotik. Daun lambesan dimasukkan ke dalam kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam. Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 untuk 1 masa tanam.
Penggunaan obat-obatan kimia untuk ikan konsumsi tidak dilanjutkan mengingat dampak yang tidak baik kepada konsumen. Kalaupun diberikan obat-obatan tidak boleh langsung di jual kepada konsumen akhir. Penggunaan obat-obatan pada ikan konsumsi juga sebaliknya tidak diberikan apabila ikan hendak diekspor. Besarnya ikan-ikan konsumsi yang mati dibuang.
Sumber : http://budidayanews.blogspot.com/2011/06/hama-dan-penyakit-pada-budidaya-gurame.html