Jumat, 10 Juli 2009

“PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN”

SEBUAH CATATAN KECIL DISKUSI RUTIN HARI SABTU TANGGAL 4 JULI 2009
“PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN”
Mustika Aji.
Assalamu’alaikum wr.wb
Pada Kesempatan kali ini kita akan Membahas tentang Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Kemiskinan. Adapun Menurut Deepa Narayan, dkk dalam bukunya Voices of the Poor menulis bahwa yang menyulitkan atau membuat kemiskinan itu sulit ditangani adalah sifatnya yang tidak saja multidimensional tetapi juga saling mengunci; dinamik, kompleks, sarat dengan sistem institusi (konsensus sosial), gender dan peristiwa yang khas per lokasi. Pola kemiskinan sangat berbeda antar kelompok sosial, umur, budaya, lokasi dan negara juga dalam konteks ekonomi yang berbeda.
Selain itu Kemiskinan dibagi menjadi 2 antara lain:
1. Kemiskinan absolut, yaitu bila penghasilan seseorang di bawah garis kemiskinan absolut, yaitu suatu ukuran tertentu yang telah ditetapkan dimana kebutuhan minimum masih dapat dipenuhi, dengan kata lain penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum yang ditetapkan dalam garis kemiskinan tersebut.
2. Kemiskinan relatif, yaitu suatu kondisi perbandingan antara kelompok penghasilan dalam masyarakat.
Dan selain Pembagian Kemiskinan menjadi beberapa bentuk ada juga Ukuran Kemiskinan itu sendiri. Ada beberapa pendapat mengenai hal ini antara lain;
1. Prof Sayogyo menggambarkan tingkat penghasilan dengan mengukur pengeluaran setara beras per tahun untuk kategori :
a. miskin di perkotaan 480 kg dan di perdesaan 320 kg.
b. miskin sekali di perkotaan 360 kg dan diperdesaan 240 kg.
c. paling miskin di perkotaan 270 kg dan perdesaan 180 kg,
2. Sedangkan Menurut BPS menggunakan tingkat pengeluaran per kapita per hari untuk memenuhi kebutuhan pokok yang dihitung sebagai kebutuhan kalori 2100 kalori per kapita per hari dan kebutuhan dasar bukan makanan dan menetapkan pada tahun 1999 Rp 93.896/kapita/bulan di perkotaan dan Rp 73.878/kapita/bulan di perdesaan.
Dalam segala hal pasti ada Penyebab terjadinya sesuatu, dalam hal ini kaitannya dengan kemiskinan adalah;
1. Sebab Struktural
Kemiskinan terjadi karena kesalahan pengelolaan kebijakan publik, misal pembuatan kebijakan Publik yang tidak pro rakyat.
2. Sebab Kultural
Kemiskinan terjadi karena sebab sebab kultural,misalnya bodoh, malas, boros, budaya dll.
3. Sebab Natural / Alamiah
Kemiskinan terjadi karena sebab alam, misal orang yang sudah jompo, cacat, unsur tanah yang ada didaerah tersebut dan lain sebagainya.
Dalam hal ini ada juga Pendekatan yang dapat dilakukan dalam Penanggulangan Kemiskinan, antara lain;
1. Penangulangan kemiskinan dengan mengunakan model pendekatan Advokasi Kebijakan
Dalam model ini pendekatannya lebih menitikberatkan untuk mempengaruhi kegiatan Negara agar berpihak pada orang miskin.
2. Penanggulangan Kemiskinan dengan menggunakan model Pemberdayaan Masyarakat
Penanggulangan ini dilakukan apabila kemiskinan terserbut disebabkan oleh sebab Kultural.
3. Penanggulangan Kemiskinan dengan model perlindungan social.
Perlindungan sosial ini dilakukan untuk kemiskinan yang disebabkan oleh sebab Alam.
Dalam Pemberdayaan Kemiskinan dikenal juga adanya suatu Konsep, tapi sebelum melangkah ke konsep tersebut kita lebih dahulu harus mengetahui apa itu Pemberdayaan. Dalam hal ini Pemberdayaan (empowerment) adalah upaya memperkuat kemampuan kelompok masyarakat yang lemah agar bisa mengontrol dan menentukan pilihan di dalam kehidupannya ( otonomi ). Dengan demikian, pemberdayaan berarti mengubah pola hubungan kekuasaan (power relationship) di antara kelompok dominan/berkuasa (powerfull) dan kelompok lemah (powerless) di masyarakat melalui peningkatan posisi kelompok masyarakat lemah. Pembedayaan hanya bisa dikatakan terjadi apabila perubahan pola hubungan kekuasaan itu terjadi.
Konsep Pemberdayaan Msayarakat dalam penanggulangan kemiskinan masyarakat berawal dari Pendekatan kita ke masyarakat di mana kita disini akan berperan sebagai Fasilitator bagi masyarakat itu sendiri yang diharapkan untuk kedepan mereka bisa memacahkan suatu permasalahan yang dihadapi baik itu permasalahan intern maupun ekstern dengan desa lainnya, karena sudah dianggap bisa memecahkan Problem yang ada di masyarakat itu sendiri mereka diharapkan juga nantinya bisa menggali potensi dan juga mengakses Sumber Daya Alam setempat (jadi mengetahui apa potensi daerah mereka masing-masing) karena hal ini lama kelamaan akan menjadi suatu sistem maka, akan tercipta kesinambungan (proses yang berkelanjutan) yang itu semua diharapkan supaya mengurangi ketergantungan mereka terhadap para Fasilitator dan menjadi suatu masyarakat yang mandiri.

Muhammad Erwin
Kalau masyarakat sudah tidak bergantung lagi kepada Fasilitator berarti dalam hal ini apakah Fasilitator bisa dianggap gagal, karena dalam hal ini mereka sudah tidak dibutuhkan lagi?????
Mas Aji
Justru Fasilitator itu dianggap gagal kalau masyarakat yang di Fasilitasinya itu masih terus bergantung padanya, jadi dalam hal ini masyarakat seolah-olah merasa kalau tidak ada yang menfasilitasi mereka tidak bisa apa-apa, itulah sebenarnya kegagalan Para Fasilitator karena tidak bisa membuat Masyarakat yang di fasilitasinya itu mandiri…begitu ya….

Mas Bintang
Mungkin saya akan menambahi jadi seorang Fasilitator itu selain menggali potensi yang ada di desa tersebut juga mencari kader tekhnis sebagai penggantinya kelak supaya rasa ketergantungan terhadap Fasilitator tersebut hilang…mungkin seperti itu…

Mas Aji
Baik kita lanjutkan lagi dalam pemberdayaan ini diperlukan juga pembangunan Sinergi dalam rangka Penanggulangan kemiskinan karena yang pertama Kemiskinan sebagai suatu masalah yang komplek dan multidimensi, yang kedua Banyaknya Program penanggulangan kemiskinan yang mengunakan model pemberdayaan masyarakat, dan yang ketiga atau yang terakhir Penanggulangan Kemiskinan adalah tanggungjawab bersama.
Yang paling penting untuk membangun sinergi itu perlu adanya suatu komunikasi, karena tidak mungkin suatu hal apapun berjalan drngan baik tanpa adanya suatu komunikasi…
Selanjutnya dalam setiap hal apapun Pasti ada yang namanya Hambatan dan tantangan, nah dalam Pemberdayaan masyarakat dalam penaggulangan kemiskinan ini dikenal ada 4 hambatan dan tantangan yang harus dihadapi, antara lain;
1. Ego sektoral.
2. Ego Program.
3. Perbedaan Pendekatan dan Metodelogi.
4. Adanya Jebakan Proyek.
Ya mungkin itu sedikit gambaran secara garis besarnya saja tentang Pemberdayaan masyarakat dalam penaggulangan Kemiskinan, dan rapat hari ini kita tutup…

Wassalamu’alaikum wr.wb…..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar